TREKKING THROUGH THE HISTORY OF JAVA FIRST POINT

Ada banyak jalan setapak yang melintasi Semenanjung Ujung Kulon. Semua jalur jalan setapak tersebut menawarkan sensasi alam liar Taman Nasional Ujung Kulon yang tak terjamah manusia. Namun, jalur yang berawal di Cibom terus menuju Tanjung Layar adalah satu-satunya jalur dimana kita bisa menemukan sisa cerita manusia di masa lalu. Cerita tentang angan besar, kejayaan, dan bencana.

Angan Besar Daendels untuk Cibom

Cibom berada tepat di seberang Pulau Peucang. Jika anda menggunakan kapal besar dan tidak membawa rakit yang bisa berlabuh tepat di bibir pantai, maka anda harus melompat dan berenang untuk sampai ke garis pantai Cibom. Salah satu cara menjangkau garis pantai Cibom tanpa berenang adalah dengan menumpang kapal kecil milik Resort Peucang, kantor perwakilan Taman Nasional Ujung Kulon. Kapal bermesin 40 pk ini disandarkan di dermaga Pulau Peucang. Dari tempat bersandarnya, hanya butuh waktu kurang dari dua puluh menit menuju Cibom. Saat sampai Cibom, kita tetap harus sedikit mencelupkan kaki ke air dan berjalan ke garis pantainya.

Pada tahun 1808, Gubernur Jenderal Hindia Timur, Herman Willem Daendels, menilai Cibom adalah daerah yang strategis. Wilayah perairan di sekitarnya, yaitu Selat Sunda, sangat sibuk dilalui kapal perdagangan mancanegara. Ia berangan-angan menjadikan bagian paling barat Semenanjung Ujung Kulon itu sebagai pusat perekonomian. Dimulai dengan mendirikan pelabuhan dan benteng. Angan Daendels tak pernah jadi nyata. Banyak pekerja yang tewas saat proyek dimulai. Dalam The Land of the Last Javan Rhinoceros, Hoogerwerf menuliskan dalam tanda petik kalau para pekerja Daendels dikabarkan mati karena keracunan uap berbahaya yang keluar dari tanah yang baru digarap. Pekerja yang tersisa melarikan diri. Jejak proyek Daendels berupa batang besi dan anak tangga dari bata dan semen dapat ditemukan tak jauh dari garis pantai Cibom. Tidak pernah ada rencana pembangunan wilayah Cibom setelah Daendels. Kini Cibom adalah bagian kecil dari Taman Nasional Ujung Kulon yang didominasi oleh tumbuhan mangrove dan palem-paleman.

Kampung yang Tersapu Ombak

Erupsi Krakatau pada 1883 menghempas garis pantai Semenanjung Ujung Kulon dengan ketinggian 15 meter. Hoogerwerf mengatakan ombak menghancurkan Kampung Ujung Kulon, Cikuja, dan Rumah Tiga yang lokasinya diperkirakan berada di seberang dan di atas Pulau Peucang. Kampung Ujung Kulon dikenal sebagai exportir getah karet dalam jumlah besar.

Saat tsunami, mayoritas penduduk di kampung-kampung yang terletak di sekitar Cibom sempat menyelamatkan diri ke tebing tinggi di Tanjung Layar. Jalan setapak dari Cibom - Tanjung Layar terbentang mendatar sejauh 1,6 Km. Dengan berjalan santai, waktu tempuh jalur ini sekitar 45 menit. Jika berlari, penduduk masih bisa menyelamatkan diri ke Tanjung Layar, berkejaran dengan gulungan ombak yang merambat dari Krakatau yang sampai di Semenanjung Ujung Kulon dalam waktu 35 menit.

Kal, dalam bukunya Het schiereiland Djoengkoeloen (Semenananjung Ujung Kulon) yang terbit pada 1910, menemukan sekitar 40 rumah penduduk kembali berdiri di sepanjang garis selatan pantai Semenanjung Ujung Kulon (Cibunar) dan Pulau Peucang. Kedua kampung kecil ini kemungkinan didirikan sekitar tahun 1896 setelah erupsi Krakatau. Pemerintah setempat merelokasi mereka dan kampung-kampung yang kemungkinan juga berdiri di Tanjung Telereng, Cigenter, Cibandowo, dan Cikarang. Alasannya adalah berbahaya untuk tinggal di habitat macan. Meskipun, untuk kasus Kampung Pulau Peucang alasan ini tidak relevan karena tidak ada macan di sana.

Para ahli mengatakan sepanjang garis pantai sebelah selatan Semenanjung Ujung Kulon adalah hutan baru yang tumbuh setelah terjangan tsunami. Sepanjang jalur Cibom - Krakatau kini rimbun oleh rotan (Daemonorops melanochaetes), kiara (Ficus hirta), waru laut (Hibiscus tiliaeus), salam (Eugenia polyantha) butun (Baringtonia asiatica), pandan laut (Pandanus tectoralis) dan tumbuhan tropis dekat pantai lainnya.

Saksi Kejayaan Selat Sunda

Akhir rute ini adalah tebing karang terjal yang dari laut tampak seperti layar yang besar, sehingga dinamakan Tanjung Layar.

Oleh kapal-kapal yang datang dari arah Samundra Hindia , tebing ini menjadi tanda pintu masuk menuju Selat Sunda di sisi sebelah timur. Selat Sunda mulai menjadi terowongan laut yang sibuk oleh para pedagang internasional pada abad ke-16. Ketika Malaka jatuh dalam kekuasaan Portugis pada tahun 1511, para pedagang muslim seperti yang berasal dari Gujarat mulai mencari rute perdagangan baru ke Nusantara. Mereka memilih untuk menjalin hubungan dengan Kesultanan Muslim Banten ketimbang dengan Portugis yang menganut Kristen. Saat datang ke indonesia pada tahun 1596, Belanda juga menghindari Selat Malaka dan memilih untuk memasuki wilayah Nusantara melalui Selat Sunda demi menghindari pasukan Portugis.

Sebagaimana jalur maritim yang sibuk, mercusuar akan dibangun sebagai penanda gerbang pelabuhan atau tanda bahaya adanya karang besar dan wilayah perairan dangkal. Mercusuar pertama di Tanjung Layar dibangun pada tahun 1877. Bangunannya berupa menara rangka logam bercat hitam berbentuk persegi setinggi 16 meter. Struktur bangunan ini rusak akibat gempa bumi pada 1 September 1880. Hanya tiga tahun setelah didirikan.Mercusuar kedua segera dibangun. Belum ditemukan keterangan kapan mercusuar kedua ini dibangun. Bangunannya berupa menara batu bata bercat putih. Pada tahun 1906 mercusuar kedua ini kembali rusak oleh gempa bumi. Ada kabar yang beredar kalau pondasi bangunan ini masih utuh dan dijadikan tampungan air hujan oleh petugas. Mercusuar kedua digantikan oleh menara rangka besi. Mercusuar yang masih beroperasi di Tanjung Layar saat ini adalah menara keempat, berupa kerangka besi berbentuk kotak, yang dibangun pada tahun 2005.

Peninggalan Lain di Tanjung Layar

Mercusuar Tanjung Layar saat ini dijaga oleh petugas yang dirotasi setiap 4 bulan sekali. Tidak ada apapun di sekitar mercusuar kecuali hutan rimba. Komplek makam di dekat mercusuar oleh ranger diklaim sebagai makam petugas yang sakit dan meninggal di lokasi. Jika menunggu jemputan bisa berhari-hari, mayat keburu membusuk sehingga terpaksa dikuburkan di sana. Terdapat komplek penjara di dekat mercusuar. Belum ditemukan sumber apa fungsi penjara ini. Kabarnya ini adalah penjara bagi bajak laut yang tertangkap pada era Kesultanan Banten.

NIKKI Peucang Resort @ 2022
Open chat
Need help? Chat with us
Hello,
Can we help you?